Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Mari didik anak kita dengan benar


Bagi anda yang sudah menikah dan punya anak, barangkali tulisan ini bisa menjadi salah satu korektor dari tindakan yang telah kita lakukan dalam mendidik anak kita. Sedangkan bagi anda yang belum menikah (dan semoga belum punya anak), mungkin bisa jadi bahan diskusi bagi kita.

Bagi kebanyakan orang, menjadi orang tua adalah sebuah proses yang datang begitu saja. Tiba-tiba saja kita menikah, dan tiba-tiba sudah ada anak. Padahal berpikir untuk menjadi orang tua yang baikpun belum dilakukan. Bagaimana kelak akan mendidik anak-anaknya belum dipersiapkan. Padahal madrasah pertama seorang anak adalah keluarga. Karena itu tidaklah aneh jika dalam mendidik anak terkadang kita banyak melakukan kesalahan. Apa saja itu? diantaranya adalah mengikuti pola negatif dalam berinteraksi dengan anak. Pola-pola negatif itu antara lain :

1. Sikap diktator

Sikap menentang dan menolak semua keinginan anakdan mengharuskan anak melakukan apa yang dikehendaki orang tua. Sikap ini juga berarti sikap keras dalam berinteraksi dengan anak. Orang tua menekankan tugas dan tanggungjawab di luar kemampuan anak dengan perintah dan larangan yang tidak bisa ditolak, diiringi dengan celaan dan hukuman bila anak tidak bisa memenuhinya. Kritik dan celaan begitu sering tertuju pada anak disertai dengan sikap membesar-besarkan kesalahan anak.
Orang tua yang menerapkan pola ini biasanya adalah orang tua yang tertutup. Dia terlalu yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah semata-mata karena niat baik dan tanggungjawabnya untuk menyiapkan anak menghadapi masa depan.
Dampak negatif yang ditimbulkan dari pola ini adalah anak akan menjauh dari kehidupan sosial, harga dirinya rusak dan merasa memiliki banyak kekurangan dan tidak memiliki rasa percaya diri. Dia juga terus melakukan pembangkangan sebagai upaya menutupi ketakutan dan kecemasan dalam dirinya.

2. Overprotektif dan memanjakan

Tipe seperti ini umumnya tampak dari sikap orang tua yang selalu memanjakan anak, memberikan semua keinginan dan bahkan melakukan semua tugas dan kewajiban anak. Tipe ini sebenarnya sama dengan tipe sebelumnya, sama-sama merampas kebebasan anak. Orang tua seolah tidak memberi kebebasan kepada anak untuk beraktifitas.
Dampak buruknya bagi anak adalah dia tidak akan sanggup menghadapi rintangan yang dihadapi. Ia akan menjadi orang yang takut untuk mengemban sebuah tanggungjawab, tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak bisa mengambil keputusan ketika dihadapkan kepada suatu permasalahan. Anak tidak punya kemadirian dan tidak mampu menjalankan aktititasnya tanpa bantuan orang lain.

3. Sikap permisif

Membiarkan anak berperilaku sesukanya. Ini sama dengan tidak peduli. Anak mau melakukan apa saja dibiarkan. Tanpa pengawasan, tanpa motivasi, teguran dan koreksi. Tidak ada ganjaran dan pujian. Orang tua masa bodoh dengan pemenuhan kebutuhan anak, bbaik fisik maupun psikis. Tidak ada motivasi disaat anak putus asa.

4. Sikap inkonsisten

Ini adalah sikap yang paling berbahaya bagi anak. Kadang anak mendapatkan pujian atau hadiah atas suatu perbuatan, tapi kadang juga mendapat hukuman atas perbuatan yang sama. Kadang keinginan anak dipenuhi, tapi kadang ditolak habis-habisan. Anak jadi tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah.
Akibatnya anak menjadi bingung dalam merespon orang tua, sehingga dia selalu gelisah dan tidak bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk. Anak juga tidak bisa konsisten atas suatu nilai dan tidak memiliki emosi yang stabil.

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dan benar bagi anak-anak kita. Amin.
(disarikan dari bhakti)
READ MORE » Mari didik anak kita dengan benar

Sejarah Maulid Nabi

Maulid berasal dari kata kerja walada yang berarti melahirkan. Sedangkan maulid adalah isim zaman yang berarti waktu kelahiran. Maulid an-Nabi (Maulid Nabi) berarti hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bagaimana sejarahnya hari kelahiran Nabi diperingati oleh umat Islam di dunia, bahkan di Negara kita pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal dijadikan sebagai hari libur?

Peringatan Maulid Nabi diperingati pertama kali pada masa Panglima Shalahuddin al-Ayyubi. Seorang gubernur yang pusat kekuasaannya berada di Kairo Mesir dan memegang kekuasaan pada tahun 1174-1193 M. . Di kalangan orang Barat, Sholahuddin dikenal dengan nama Saladin. Ketika itu beliau melihat ummat Islam mengalami kemerosotan semangat juang. Tidak seperti para pejuang terdahulu yang begitu membara semangatnya. Dia berpikiran bahwa semangat ummat Islam harus dibangkitkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan kepada Nabinya. Karenanya dia mengajak seluruh ummat Islam di dunia untuk memperingati hari kelahiran Nabi pada tanggal 12 Rabiul Awwal secara besar-besaran.

Ide itu beliau sampaikan kepada Khalifah An-Nashir di Baghdad. Ternyata khalifah menyambut baik ide tersebut dan memberi lampu hijau kepada Shalahuddin untuk merealisasikannya. Maka pada musim haji bulan Dzulhijjah di tahun 1183, sebagai penguasa haramain (Makkah – Madinah) Shalahuddin menginstruksikan kepada seluruh jamaah haji dari seluruh dunia agar sekembalinya dari tanah suci, mereka mengadakan peringatan Maulid Nabi di kampung halaman masing-masing dimulai pada tahun berikutnya, yaitu tahun 1184 M. Isi peringatan Maulid Nabi itu adalah berbagai kegiatan yang bisa membangkitkan semangat umat Islam.

Meskipun Sultan ketika itu sudah menyetujuinya, namun para ulama menentangnya. Alasannya sejak zaman Nabi belum pernah ada peringatan semacam itu, dan itu dianggap sebagai bid'ah. Lagi pula hari raya resmi dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Shalahuddin tidak bergeming. Baginya perayaan Maulid hanyalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk syiar agama dan bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan bid'ah. Kalaupun itu dianggap bid'ah, termasuk bid'ah hasanah.

Pada masa Shalahuddin sendiri kegiatan yang dilaksanakan pada saat perayaan Maulid Nabi antara lain adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh Ulama dan Sastrawan diundang untuk turut berpartisipasi. Pemenang untuk lomba ini ketika itu adalah Syeikh Ja'far al-Barzanji. Karya beliau terkenal hingga saat ini sebagai kitab Barzanji yang sering dibaca pada saat perayaan Maulid Nabi di kampung-kampung.

Apa yang dilakukan oleh Shalahuddin ternyata berbuah hasil yang positif. Semangat juang kaum muslimin bergelora kembali. Sehingga ketika terjadi perang Salib pada tahun 1187 M, umat Islam berhasil merebut Yerussalem dari tangan bangsa Eropa dan mengembalikan Masjid al-Aqsa kepada ummat Islam sampai sekarang.
READ MORE » Sejarah Maulid Nabi

Oleh-oleh dari Kondangan Nikah

Hari Ahad kemarin saya pergi kondangan manten. Seperti biasa, sebelum akad atau sebelum acara resepsi dibacakan ayat suci Al-Qur'an. Dan hamper selalu yang dibaca adalah Surat ar-Rum ayat 21.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu bener-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

Tentu ada maksud dari si qori' (pembaca ayat) tersebut dengan melantunkan ayat tadi. Yaitu mengingatkan kepada pengantin dan juga pada undangan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang berhubungan dengan mantenan. Tapi sayangnya kadang pembacaan ayat al-Qur'an dalam acara-acara seperti itu tidak lebih dari sekedar formalitas, atau hanya untuk pantes-pantes saja. Padahal kalau mau kita kaji, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari ayat tersebut.

Memangnya apa saja pelajaran yang bisa diambil ? diantaranya adalah:
Satu, bahwa pasangan (istri/suami) yang diciptakan oleh Allah untuk kita adalah dari jenis kita, jenis manusia. Berarti kalau mau mencari pasangan, ya harus yang dari jenis manusia, bukan dari binatang atau jin bahkan syetan.

Dari sejarah penciptakan manusia yang diceritakan dalam Al-Qur'an juga, bahwa Allah menciptakan Adam dari tanah dan Hawa (istrinya) dari tulang rusuknya. Kenapa dari tulang rusuk? Memang tidak ada riwayat yang secara jelas menyatakan alasan kenapa dari tulang rusuk. Tapi kalau dikaitkan dengan posisi perempuan sebagai istri, barangkali adalah agar suami memperlakukan istri sebagai partner dalam mengarungi kehidupan. Bukan sebagai atasan atau bawahan. Mungkin kalau diciptkan dari tulang kepala, istri akan menjadi besar kepala atau bahkan ngelunjak kepada suami. Atau kalau dari tulang kaki, istri hanya akan diinjak-injak oleh suami.

Memang sih banyak istri yang "menjajah" suaminya, sehingga ada istilah ISTI atau Ikatan Suami Takut Istri. Ada juga suami yang memperbudak istrinya. Tapi tentu bukan itu yang dikehendaki dalam Islam.

Kedua, pasangan yang kita pilih adalah dari jenis kita yang perempuan, bukan laki-laki.
Mari kita lihat Surat an-Nahl ayat 72.:
"Dan Allah telah menjadikan istri-istrimu dari jenismu dan menjadikan anak-anak dan cucu-cucu dari istrimu…."
Jika kita pahami dari ayat diatas, yang bisa 'mengeluarkan' anak dan cucu tentunya adalah perempuan. Maka ketika mencari pasangan tentunya yang harus dicari adalah perempuan. Fenomena yang muncul sekarang dimana laki-laki berpasangan (menikah) dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan adalah sesuatu yang mengingkari sunnatullah.

Marilah kita jaga kelangsungan spesies kita dengan mencari pasangan (istri) dari jenis kita sendiri dan yang betul-betul perempuan.
.
READ MORE » Oleh-oleh dari Kondangan Nikah

Makna Gelu untuk jenazah

Anda tahu gelu? Entah di daerah lain, tapi di wilayah yogyakarta pada saat penguburan mayat ada sesuatu yang mengiringi upacara pemakaman tersebut, yaitu Gelu. Gelu adalah tiga gumpalan tanah yang dibentuk sedemikian rupa untuk menahan jasad mayat. Biasanya gelu diletakkan di samping timur mayat pada bagian daerah kepala, punggung dan satu lagi di bawah. Tujuanya agar mayat tidak ngglebak. Mungkin di daerah lain bukan hanya tiga, tapi lebih dari itu.

Memang tidak ada nash qur'an maupun hadis yang menyuruh kita untuk menyertakan gelu tersebut. Pun penamaan gumpalan-gumpalan tanah itu dengan Gelu. Tapi ada beberapa makna tersirat yang mungkin bisa menjelaskan pemberian nama tersebut. Diantaranya adalah :

1. Gelu, adalah singkatan dari tuGel-teLu. Ini adalah bahasa jawa. Tugel (bukan togel) artinya putus, sedangkan telu berarti tiga. Ini artinya bahwa ketika orang sudah meninggal, semua amalnya terputus, kecuali tiga hal. Seperti yang disebutkan dalam hadis:

"Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya kecuali dari tiga hal, yaitu sodaqoh jariyah (yang terus mengalir pahalnya), ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya."

2. Gelu adalah kata untuk melebihkan arti kata Gelo. Gelo berarti menyesal. Sedangkan Gelu berarti sangat menyesal. Ini mengandung makna bahwa setiap orang yang meninggal pasti menyesal. Bagi orang yang berdosa dia menyesal karena belum sempat taubat, sedangkan bagi yang sudah mempunyai amal sholeh, dia juga menyesal kenapa tidak lebih banyak lagi dia beramal sholeh.
Inilah dua makna yang bisa dijelaskan dari Gelu. Anda punya penjelasan lain?
.
READ MORE » Makna Gelu untuk jenazah

Menikah Siri, Haruskah dipidana?

Saat ini Menteri Agama sedang mengusulkan RUU tentang Hukum Materiil Peradilah Agama bidang Perkawinan, yang diantaranya mengatur tentang nikah sirri. Istilah nikah sirri dalam pandangan hukum islam tidak dikenal. Meskipun kedua kata tersebut (nikah – sirri) semuanya adalah bahasa Arab, namun masyarakat di sana tidak mengenal istilah tersebut. Barangkali hanya di Indonesia saja kosa ini dipakai.

Istilah nikah sirri dipakai untuk menunjuk suatu akad pernikahan yang tidak dicatatkan pada dokumen yang diketahui oleh pejabat pemerintah yang berwenang. Akad pernikahan itu hanya menggunakan dasar hukum Islam, dengan mengabaikan legal formal ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Secara Syariat, pernikahan semacam ini sudah sah, asal memenuhi syarat rukunnya, yaitu ada calon pengantin (minimal pria-nya), wali, saksi, mahar dan ijab qobul.

Lalu kenapa sekarang diributkan? Bukanlah nikah adalah suatu ibadah yang sifatnya adalah pribadi? Perlukah pemerintah mengaturnya dengan sebuah Undang-undang?

Entah apa yang mendasari RUU tersebut, namun yang banyak berkembang adalah bahwa pernikahan sirri berpotensi membawa madharat yang lebih besar daripada manfaatnya. Terutama bagi wanita dan anak-anak. Jika terjadi konflik dan akhirnya berpisah, wanita berada pada posisi yang lemah untuk mempertahankan ataupun menuntut haknya sebagai istri, karena ketiadaan dokumen yang bisa menjadi bukti yang menguatkan untuk dirinya.
Demikian juga anak-anak, jika dari hasil pernikahan sirri tersebut sudah membuahkan anak. Untuk pengurusan dokumen-dokumen resmi yang dibutuhkan semacam akte kelahiran atau KTP jika sudah besar nanti, akan sulit dia dapatkan karena tidak ada dokumen pendukung untuk itu.

Tapi pro kontra sudah muncul. Mantan ketua MK Jimly Assidiqi (bener gak ya nulisnya) menyatakan bahwa "pernikahan sirri merupakan justifikasi praktek perzinahan terselubung"
Senada dengan pendahulunya, ketua MK sekarang Pak Mahfud MD. Juga menyatakan bahwa ' nikah sirri banyak merugikan wanita dan anak-anak'.

Akan tetapi ketua HAM Ifdal Kasim menyatakan bahwa pelarangan nikah sirri merupakan bentuk pelanggaran HAM.

Memang banyak kasus nikah sirri yang berujung pada tindakan yang merugikan pihak perempuan, seperti pada kasusnya Gery Iskak yang banyak diblow up oleh media. Tapi banyak juga pernikahan sirri yang sukses bahkan sampai kakek nenek. Jadi pada akhirnya semua kembali kepada niat awal ketika menikah. Untuk apa sebenarnya, apa tujuannya. Kalau sejak awal orang yang niat ingin beribadah, mengikuti sunnah nabi, tentu dia akan menjaga nilai-nilai yang ada pernikahan itu, entah nikahnya sirri atau tidak. Tapi kalau niatnya sekedar untuk pemenuhan nafsu biologis saja, sudah tentu nilai-nilai agung dalam pernikahan itu akan dia abaikan.

Jadi, bagaimana menurut anda?
READ MORE » Menikah Siri, Haruskah dipidana?

Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Bencana di Sekitar Kita

Salah satu kewajiban dalam Islam adalah Amar Ma'ruf Nahi Munkar atau mengajak orang lain untuk melakukan kebajikan dan melarang orang untuk melakukan keburukan. Dalam al-Qur'an maupun hadis, masalah ini banyak disinggung. Misalnya dalam dalam surat at-Taubah ayat 81 disebutkan bahwa orang-orang mukminin dan mukminat sebagian mereka adalah penolong untuk sebagian yang lain dan mereka memerintahkan untuk berbuat kebajian (amar ma'ruf) dan melarang untuk berbuat kemungkaran (nahi munkar)….mereka itulah orang-orang yang akan dikasihi oleh Allah…"

Layaknya kewajiban yang lain, tentu ada konsekwensinya ketika dilakukan ataupun ditinggalkan. Dalam pandangan islam makna 'wajib' sendiri sudah jelas, yaitu sesuatu yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Namun yang perlu kita perhatikan adalah bahwa pahala dan dosa itu bisa berupa sesuatu yang nyata di dunia. Dengan kata lain, pahala bisa berupa nikmat yang kita rasakan, sedangkan dosa bisa berupa bencana yang menimpa kita.


Sekarang mari kita ambil contoh kecil di lingkungan kita. Ketika musim hujan tiba, satu hal yang harus kita perhatikan adalah lingkungan sekitar. Barang-barang yang mungkin bisa menampung air dan digunakan oleh nyamuk untuk bertelur, harus kita bersihkan atau kita tutup atau kubur. Anda sekeluarga sadar akan hal itu. Bahkan anda rajin menguras kamar mandi anda 3 x seminggu. Tapi anda tidak mengajak tetangga anda untuk melakukan hal yang sama. Bahkan terhadap tetangga anda yang paling dekat dan nampaknya tidak begitu peduli dengan kebersihan lingkungan rumahnya.

Jika kemudian di kamar mandi tetangga anda ternyata terdapat jentik nyamuk dan akhirnya menjadi nyamuk beneran, mungkinkah nyamuk tersebut hanya akan berkeliaran di rumah tersebut? Tentu bisa ya bisa tidak. Tapi kemungkinannya adalah nyamuk tetangga bisa juga masuk ke rumah anda.

Maka tidak mengherankan jika ada peristiwa dimana seseorang terserang Demam Berdarah (DB), ketika ditelusuri ternyata dari keluarga kaya, rumahnya dan lingkungan sekitar rumahnya sendiri sangat bersih. Tapi tetangganya ternyata begitu kumuh, dan dia tidak peduli.

Ini sesuai dengan apa yang disampaikan Nabi, "sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran lalu mereka tidak merubahnya, maka Allah akan meratakan siksa (bencana) bagi mereka"

Dalam skala yang lebih besar, barangkali kita bisa mengambil pelajaran dari banjir yang terjadi di Bogor dan Jakarta. Ini bisa jadi juga karena banyak orang yang sudah tidak mau melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Misalnya lihat orang buang sampah di sungai anda diam saja, meski anda sendiri tidak melakukannya. Tapi yang anda lihat ada sesuatu yang munkar dan harus dicegah. Jika tidak dilakukan, maka bukan hanya mereka yang membuang sampah yang kena banjir, tapi mereka yang tidak ikut membuang tapi membiarkan hal itu terjadi.

Di Bogor, biasanya kota ini hanya untuk lewat air yang turun sampai Jakarta. Tapi yang terjadi kemarin air yang lewat cukup besar (banjir). Bahkan sampai menelan korban jiwa. Ini karena banyaknya daerah resapan air di sana yang didirikan bangunan. Karena yang melihat atau yang berwenang membiarkan hal itu, bencanalah yang akhirnya kita dapat.

Maka marilah, meski sedikit dan hanya menyangkut hal-hal kecil, kita laksanakan kewajiban kita yaitu Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
.

READ MORE » Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Bencana di Sekitar Kita

Sudahkah anda menyiapkan bekal untuk sebuah perjalanan pasti?

Perjalanan yang saya maksud disini adalah perjalanan kembali ke hadirat Allah. Perjalanan ke kampong akhirat. Tentu saja kita harus melewati kematian dulu. Tidak seorangpun lolos dari pintu. Nabi Idris pun ketika pengin jalan-jalan ke surga, beliau harus diwafatkan dulu. Apalagi tentu saja yang bukan nabi. Dan ini adalah sesuatu yang pasti. Semua yang bernyawa pasti akan menemuinya. Firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 78:
"Dimanapun kalian berada, pasti maut (kematian) akan menemui kalian, meskipun kalian berada pada benteng yang kuat".

Nah, kalau itu adalah sesuatu yang pasti datangnya, sudahkah kita menyiapkan bekalnya?
Suatu ketika saya pernah mendengar seorang da'i mengutip sebuah riwayat, entah hadis atau bukan, tapi isinya kurang lebih begini:

"Tidak seorang mayitpun kecuali dia pasti menyesal, jika dia orang baik, maka dia menyesal mengapa tidak menambah kebaikannya, dan jika dia orang jahat, dia menyesal dia belum sempat bertaubat."

Riwayat ini menjadi peringatan bagi kita yang masih hidup, untuk benar-benar menggunakan kesempatan hidup kita yang entah sampai kapan batasnya ini, untuk sebanyak-banyaknya menambah amal sholeh dan juga segera bertaubat. Sebab yang namanya kematian, kapan saja saja bisa datang. Pagi sehat-sehat saja, tapi malam harinya sudah menjadi mayat. Malam tidur nyenyak, tapi pagi harinya sudah tidak bias bangun lagi.
Kebanyakan kita pasti lupa bahwa suatu saat akan mati. Padahal hamper setiap hari kita mendengar berita orang meninggal, atau mungkin kita melayat, mungkin juga kita melewati sebuah makam. Tapi tetap saja kita lupa bahwa kita juga akan mengalaminya.
Lalu apa yang harus kita persiapkan? Tentu saja adalah amal shaleh. Hanya itulah yang akan menemani dan menolong kita sejak kita masuk ke liang lahat sampai nanti kita dikumpulkan di padang mahsyar.

Dalam hadis lain disebutkan :

"Tiga hal mengikuti mayit, yang dua kembali dan satu tetap menemani. Yang kembali adalah harta dan keluarga, sedang yang tetap menemani adalah amalnya." HR. Anas bin Malik.

Jadi, sudahkah anda menyiapkannya?
READ MORE » Sudahkah anda menyiapkan bekal untuk sebuah perjalanan pasti?

Tentang Fatwa Haram Merokok

Anda perokok aktif? Atau anda anti rokok tapi tepaksa menjadi perokok pasif karena lingkungan anda penuh dengan asap rokok?
Tulisan ini tidak bermaksud menambah daftar panjang kontroversi tentang fatwa haram rokok. Tapi hanya sekedar ingin melihat persoalan tentang rokok dan fatwanya dengan obyektif.
Para ulama (setidaknya jumhur) sejak dulu menghukumi merokok sebagai perbuatan makruh. Artinya suatu perbuatan yang ketika dilakukan tidak mendapat dosa, tapi ketika ditinggalkan mendapatkan pahala. Ini dikarenakan bahaya tidak bersifat instan seperti halnya minuman keras, narkoba dan sejenisnya.
Namun sekarang para ulama yang tergabung dalam MUI mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa perbuatan merokok hukumnya haram. Memang tidak mutlak. Ada 3 klausul tambahan dalam hukum haram tersebut, yaitu bagi anak-anak, wanita hamil dan merokok ditempat umum.
Ada pertanyaan yang muncul dari masyarakat (paling tidak saya, sebagai wakil masyarakat) menyusul fatwa tersebut. Kalau memang sedemikian besar bahaya merokok bagi kesehatan masyarakat -meski tidak instan-, kenapa rokok tidak diharamkan untuk semua saja? Bukankah dengan fatwa tersebut, berarti memberi ruang halal bagi seorang bapak –misalnya- untuk merokok di ruang privat seperti di dalam rumah atau mobil keluarga yang di dalamnya terdapat anak-anak maupun mungkin wanita hamil. Mereka akan dipaksa menjadi perokok pasif dalam kondisi seperti ini. Padahal kabarnya perokok pasif lebih besar resikonya daripada perokok aktif. Ini artinya fatwa tersebut menjadi tidak efektif untuk mencegah dampak negatif dari rokok tersebut. Apa artinya tidak merokok, tapi tetap menghirup asap rokok dari orang lain.
Yang lebih lebih efektif barangkali adalah sosialisasi yang tidak mengenal lelah akan bahaya rokok bagi kesehatan dan juga perekonomian, ke seluruh lapisan masyarakat, terutama kepada kepala-kepala keluarga agar menjauhkan seluruh anggota keluarga dari bahaya rokok. Sehingga pada akhirnya akan muncul kesadaran dari masyarakat dan dengan sendirinya menghentikan kegiatan meokok tersebut. Setuju?
READ MORE » Tentang Fatwa Haram Merokok

Sudah Benarkah Jamaah Kita?

Ada satu kejadian yang sering sekali kita jumpai ketika kita sholat berjamaah di masjid atau musholla. Yaitu ketika muadzin sudah mengumandangkan iqomah dan imam sudah mulai sholat, banyak orang berlarian dari kejauhan atau bergegas wudhu dan lari ke dalam masjid untuk segera menyusul imam agar tidak ketinggalan rokaat. Tidak jarang ketika mereka masih terengah-engah, tanpa menunggu lama ia langsung takbirotul ihram dan menyesuaikan dengan gerakan sang imam.Hampir di setiap tempat yang pernah saya singgahi kejadian seperti itu selalu ada.
Pertanyaannya adalah, apakah memang begitu seharusnya yang dilakukan, yaitu buru mengejar imam ketika sudah iqomah agar tidak ketinggalan rokaat?
Jika anda menjawab “YA”, mungkin anda perlu menyimak lagi sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau mendengar bahwa Rasulullah bersabda:
Jika sholat sudah didirikan (diqomati) maka janganlah kalian mendatanginya dengan berlari, datangilah dengan berjalan. Dan bersikap tenanglah kalian. Apa (rakaat) yang kalian temukan, ikutilah, dan (rakaat) yang terlewatkan, sempurnakanlah
Sebenarnya ada beberapa hadis yang redaksinya berbeda dengan hadis ini dari riwayat yang berbeda pula. Namun semuanya mengisyaratkan agar kita tetap bersikap tenang ketika imam sudah mulai sholat. Tidak perlu buru-buru. Kalau memang ketinggalan, ya kita sempurnakan.
Sebab ketika sholat, berarti kita sedang berhadapan dengan Allah. Berdialog denganNya. Sehingga semuanya harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya sejak kita mendengar adzan, kemudian mulai mengambil wudhu, meminta perlindungan dari syaithon sebelumnya dan akhirnya ber takbirotul ihram.
Inilah barangkali kenapa kualitas hidup kita tidak meningkat. Kualitas hidup seseorang mestinya berbanding lurus dengan kualitas sholat seseorang. Jika sholatnya bagus (berkualaitas), maka kehidupannya akan semakin berkualitas. Ini jaminan dari Allah dalam al-Qur’an.
Sayangnya kebanyakan dari kita masih menjadikan sholat hanya sebagai kewajiban saja. Sehingga ketika waktunya tiba, ingin segera melaksanakannya biar terasa “plong”. Kalau perlu dilakukan secepat mungkin, yang penting sholat. Seperti yang sering kita dengar ketika orang mau pergi, dia bilang:” Tunggu ya, aku sholat sebentar” dan ungkapan-ungkapan senada. Padahal seharusnya sholat kita jadikan sebagai kebutuhan kita, kebutuhan akan taufik, hidayah dan inayah dari Allah SWT. Semoga.
.
READ MORE » Sudah Benarkah Jamaah Kita?

Mengejar Sebuah Amanat

Beberapa saat setelah Rasulullah wafat, ummat islam dari kaum Muhajirin dan kaum Ansor berkumpul di sebuah rumah milik Bani Saidah. Pada awalnya kedua kelompok sahabat Nabi tersebut berkumpul sendiri-sendiri. Namun akhirnya mereka berkumpul menjadi satu, untuk membicarakan siapa pengannti Rasulullah yang akan memimpin kaum mislimin dan mengatur urusan mereka selanjtunya.
Dari hasil musyawarah yang sangat alot, akhirnya keluar tiga nama sebagai kandidat pengganti Rasul. Yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khottob dari kaum Muhajirin, dan Said bin Ubadah dari kaum Ansor.
Setelah semua sepakat pada nama-nama itu, Abu Bakar lalu memegang tangan Umar dan Said sambil berkata: “Wahai kalian yang hadir, baitlah salah satu dari kedua orang ini untuk menjadi pemimpin kalian”. Belum lagi ada tanggapan dari hadirin, Umar dan Said memang dan mengangkat tangan Abu Bakar sambil berkata: “Engkaulah yang lebih pantas memimpin kami wahai Abu Bakar. Engkau menemani hijrah Rasul dan tinggal di dalam gua berdua dengan Rasul. Siapa lagi yang lebih baik dari engkau”.
Akhirnya Abu Bakar di baiat menjadi kholifah yang pertama oleh seluruh kaum muslimin pada waktu itu.
Itulah yang terjadi pada saat periode kepemimpinan Rasulullah berakhir dan harus mencari pemimpin baru. Sama sekali tidak tergambar dalam sejarah itu kesan ambisius untuk menjadi pemimpin, apalagi sampai berusaha mendapatkannya dengan segala cara termasuk money politic. Sama sekali tidak ada.Dalam pandangan mereka, jabatan/kepemimpian adalah amanat. Dan yang berhak memegangnya adalah orang yang punya kapasitas dan kualitas terbaik, dan itu dimiliki oleh Abu Bakar, sahabat terlama dan terdekat dengan Rasulullah. Yang merasa tidak pantas, tahu diri dengan mengundurkan diri dari pencalonan. Bukan tetap ngotot maju.
Negeri ini sebentar lagi juga akan mengakhiri periode kepemimpinan, setelah lima tahun berjalan. Eksekutif maupun legislatifnya akan berganti. Bisa jadi orang baru yang benar-benar baru yang akan menggantikannya, atau yang lama dan masih berkuasa, akan tetap berkuasa dan hanya berganti periode saja. Namun hiruk pikuk perburuan jabatan sebagai pemimpin maupun sebagai wakil rakyat sudah dimulai beberapa bulan lalu dan akan semakin ramai pada bulan-bulan ini.
Inilah fenomena yang terjadi sekarang. Orang beramai-ramai mengejar sebuah amanat. Bahkan kelaupun harus mengeluarkan sejumlah biaya, tidak masalah bagi mereka asal jabatan terpegang. Karena di dalamnya terdapat kemewahan, kenikmatan dan kemakmuran. Padahal tanggung jawab dalam mengemban sebuah amanat sangatlah berat, sampai-sampai langit dan bumi pun enggan memikulnya.
Sesungguhnya kami menewarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, mereka semua menolak, lalu manusia mengambilnya. Sesungguhnya dia sangat dholim dan bodoh.”
Al-Ahzab: 72
Inilah gambaran al-Qur’an tentang betapa bodoh dan dholimnya manusia. Tidak ditawari amanat, tapi malah menawarkan diri mengambilnya.
Seperti ini jugalah yang terjadi sekarang. Orang berlomba-lomba menawarkan dirinya agar dia dipilih, dilantik dan dibaiatt menjadi wakil orang lain dengan berbagai cara. Tenaga, pikiran dan biaya yang tidak sedikit dicurahkan dalam hal ini.
Anda mau tahu berapa biaya dibutuhkan untuk menjadi DPR RI? Menurut sebuah sumber, angkanya mencapi Rp. 5 M untuk daerah pemilihan yang meliputi 3 kabupaten saja. Dana sebesar itu sebagian besar hanya akan menjadi sampah dalam bentuk baliho, spanduk, pamlet, foto dan lain-lain.
Lalu, dari mana uang sebanyak itu diperoleh para caleg? Inilah masalahnya. Tidak semua caleg punya dana sebesar itu. Dan yang punya pun tidak serta merta mau mengeluarkan uangnya sendiri untuk kepentingan ini. Ada yang mencari sponsor dari pihak lain. Bisa dari pengusaha, pejabat atau orang lain yang punya kepentingan dengan dewan. Tentu saja ada perjanjian sang Caleg harus memperhatikan kepentingan sponsor jika kelak duduk di kursi dewan. Ini artinya sang wakil rakyat tidak lagi mewakili rakyat, tapi mewakili kepentingan sang sponsor. Padahal yang memilih adalah rakyat.
Jika begini jadinya, maka siap-siap saja kita tunggu kiamat di negeri ini. Rasulullah SAW suatu hari ditanya oleh seseorang, kapan kiamat datang? Beliau menjawab:
Jika amanat sudah disia-siakan, maka tunggulah kiamat”. (Hadis dari Abu Hurairah)
Semoga wakil-wakil rakyat yang terpilih kelak, betul-betul menjadi wakil rakyat yang amanat, sehingga 'kiamat' tidak segera datang ke negeri ini. Amin.
.
READ MORE » Mengejar Sebuah Amanat

Musibah yang Menimpa kita, Ujian atau Adzab?

Seringkali ketika kita sedang mendapatkan suatu musibah yang menimpa diri kita, kemudian kita mengatakan; ‘saya baru dapat ujian”. Tapi benarkah musibah itu sebuah ujian bagi kita?
Nanti dulu. Paling tidak ada dua hadis yang bisa kita jadikan sebagai referensi dalam hal musibah ini. Yang pertama adalah hadis yang diriwayatkan dari Abu Unabah r.a., Rasulullah bersabda:
“Jika Allah azza wa jalla menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia akan mengujinya”
Dan yang kedua adalah dari Aisyah r.a. Rasullulah bersabda:
“Tidak satu musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosa orang itu dengan musibah tersebut, hingga duri yang menancap di kakinya”.
Lalu ada lagi hadis ketiga dari yang hampir sama dengan hadis kedua, juga dari Aisyah r.a. Rasulullah bersabda:
“Jika telah banyak dosa seseorang, padahal tidak ada amal yang bisa menghapusnya, maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan agar terhapus dosa itu”

Dari ketiga hadis diatas, kita dapat memahami bahwa musibah yang menimpa seseorang, bisa jadi merupakah ujian, jika orang tersebut adalah orang sholeh yang dicintai oleh Allah. Tapi bisa juga merupakan azab jika orang tersebut bergelimang dengan dosa, yang dengan azab atau musibah tersebut kemudian Allah akan menghapus dosa orang tersebut.
Lalu bagaimana kalau musibah menimpa kita? Bagaimana kita harus mensikapinya? Apakah kita akan menganggap itu sebagai ujian?
Orang-orang yang bijaksana seringkali menganjurkan kepada kita, kalau kita sedang mendapatkan musibah, sebaiknya introspeksi diri, apa kira-kira kesalahan yang baru saja kita perbuat. Misalnya tiba-tiba tangan kita kejepit pintu. Coba kita ingat-ingat, dosa apa yang baru saja diperbuat oleh tangan kita. Mata kita tiba-tiba kelilipan. Segera introspeksi, maksiat apa yang baru kita lihat. Begitu seterusnya.
Ini artinya kita harus merasa bahwa apa yang menimpa kita merupakan akibat dari kesalahan yang kita buat. Tapi kalau kita merasa bahwa musibah itu sebagai ujian, orang bilang kita ini GR alias merasa sebagai orang sholeh yang sedang diuji oleh Allah. Padahal barangkali dosa kita menumpuk. Tapi sangking terbiasanya kita melakukan dosa, sampai-sampai kita tidak merasa bahwa itu sebuah dosa.
Memang, tidak setiap dosa langsung diazab atau diperingatkan oleh Allah di dunia. Sering kita melihat orang yang tiap hari berbuat dosa, tapi hidupnya enak-enak aja. Nyaman. Gak usah iri. Mereka sedang di ‘lu-lu’ sama Allah. Di ‘lulu’ itu bahasa jawa. Bahasa Indonesianya kira-kira artinya dibiarkan saja. Misalnya gini. Orang tua melarang anaknya merokok. Ketika suatu ketika sang ibu melihat anaknya merokok, bukannya langsung dimarahi, tapi malah dibelikan satu slop, “ini, dihabiskan ya…”. Ini gambarannya ketika Allah sedang nge’lulu’ seseorang.
Ada sebuah hadis yang mengatakan:
‘cukuplah sebagai bukti kemurkaan Allah kepada seseoarang, ketika Allah membiarkannya melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya.”
Bahkan harusnya kita bangga ketika dosa kecil yang kita lakukan, langsung diingatkan oleh Allah. Itu artinya kita masih disayang oleh Allah. Saya pernah dapat cerita dari seorang teman yang saya anggap sangat alim dan rajin ibadah. Suatu saat dia tergoda untuk melihat film porno, sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Ketika dia baru berangkat mau pinjam vcd dengan sepeda motornya, di jalan sudah serempatan dengan motor lain. Dalam hati dia sudah merasa bersalah. Tapi tetap dilanjutkan ke tempat rental dan akhirnya dia dapat VCD. Begitu pulang di jalan dia bertabrakan dengan sepeda motor sampai babak belur dan motornya rusak. Ketika itu dia betul-betul merasa sedang diingatkan oleh Allah. Entah karena kecerobohannya atau karena azab dari Allah, wallahu a’lam.
Tapi yang jelas, apapun namanya, entah itu ujian atau azab, semuanya menunjukkan bahwa Allah sayang pada hambaNya. Karena ketika memberikan musibah, Dia menghapus dosa kita, dan juga berarti Dia mengingatkan kepada kita untuk tidak lagi berbuat maksiat. Semoga kita selalu menjadi orang yang peka terhadap peringatan dari Allah, sehingga ketika menerima musibahpun kita masih bisa bersyukur. Amin.
.
READ MORE » Musibah yang Menimpa kita, Ujian atau Adzab?

Banyak Jalan Menuju MAKKAH

Kalau lagi musim haji begini, rasanya pengin sekali pergi ke Makkah sana kayak orang lain. Tapi ongkos pergi ke sana dari tahun ke tahun selalu naik. Yach…namanya juga naik haji. Kalo gak bener-bener niat dan nabung demi untuk kesana, rasanya sulit buat mewujudkan impian naik haji.
Tapi Allah Maha Kuasa. Jika Dia berkehendak memanggil kita, kita pasti akan ke sana. Lalu bagaimana ikhtiar kita?
Untuk haji yang non fisik alias hanya dapat pahalanya saja tanpa harus pergi ke Makkah, Rasulullah sudah banyak memberikan resep. Diantara:
Pesan Rasulullah kepada Aisyah r.a. sebelum tidur. Rasul meminta Aisyah melakukan 4 hal sebelum tidur, yaitu menghatamkan al-Qur’an, meyakini bahwa semua Nabi akan memberikan syafaat kepadanya, membuat ridho seluruh kaum muslimin dan terakhir melakukan haji dan umroh. Bayangkan, kapan tidurnya kalo sebelum tidur harus melakukan empat hal itu? Singkatnya untuk haji dan umroh, Rasul bilang bahwa cukup dengan membaca “subhanallah walhamdulillah wala ilaha illa Allah, Allahu akbar”, maka pahalanya sama dengan melaksanakan haji dan umrah.
Rasul bersabda, Barangsiapa yang melaksanakan sholat subuh lalu dia tidak beranjak dari tempat duduknya (untuk berdzikir) sampai terbitnya matahari, maka seolah-seolah ia melaksanakan haji dan umrah secara sempurna.

Tapi bagaimana kalau tetap ingin pergi ke Makkah juga? Rasanya belum ‘marem’ kalau belum berangkat kesana. Inilah masalahnya. Meski Rasulullah sudah secara tegas menyatakan bahwa ada amalan yang pahalanya setara dengan amalan haji, banyak yang tidak mau mengamalkannya dan tetap ingin pergi haji. Kalau ongkosnya tersedia, no problem. Bagaimana kalau duit nggak ada, tapi ngebet pengin ke sana juga ?

Mau tau caranya? Yang jelas bukan dengan merampok atau korupsi. Saya pernah mendengar carita dari seorang Kyai yang menceritakan suatu kisah berkaitan dengan hal ini.
Di Ponpes Lasem milik Almarhum Mbah Maksum, dulu ada seorang santri asal kota batik Pekalongan, sebut saja namanya Zainudin. Suatu ketika dia sowan kepada mbah Maksum dan mengatakan:
“Kyai, saya itu pengin sekali haji, tapi saya ndak punya uang”, katanya.
Kyai Maksum tersenyum, “Kamu betul-betul pengin pergi ke Makkah?” tanya beliau.
“Betul kyai, bisa nggak ya?”
“Bisa aja” Jawab Kyai Maksum. “Kamu baca sholawat Nariyah 4.444 x semalam. Harus kamu lakukan dalam satu malam”.
“Hanya itu kyai?”
“Iya, lakukan saja amalan itu, insya Allah kamu akan dapat jalan ke Makkah”.
Singkat cerita, malam Kamis Zainudin sudah siap-siap melaksanakan amalan yang diberikan Kyai Maksum. Malam itu dia sahur dan paginya puasa sunat Kamis. Malam Jum’at selepas sholat Isya’ dia mulai mengamalkan bacaan sholawat Nariyah 4444 x sampai menjelang subuh baru selesai.
Seminggu setelah dia mengamalkan bacaan itu, tiba-tiba dia mendapat telegram dari Pekalongan untuk segera pulang. Dia pun pamit kepada Kyai Maksum untuk pulang dulu ke Pekalongan.
Sampai di rumah, ternyata orang tuanya mengabarkan bahwa tetangganya yang sudah mendaftar Haji suami istri, tiga bulan yang lalu sang suami meninggal dunia. Padahal waktu pemberangkatan sudah dekat. Dia ditawari untuk menggantikan tiket sang suami pergi ke Makkah. Tapi syaratnya harus menikah dulu dengan janda yang ditinggal mati tadi.
Zainudin bingung. Dia tidak bisa langsung memutuskan. Akhirnya dia pamit kepada orang tuanya untuk konsultasi dengan Kyai Maksum di Rembang.
“Kyai, ternyata saya diminta menggantikan tiket haji yang kosong”
“Alhamdulillah, memang itu khan yang kamu inginkan?”
“Betul kyai, tapi saya harus menikah dulu dengan jandanya”
“Tidak apa-apa”
“Anaknya sudah tiga, kyai”
“Lha kemarin, amalannya kamu tambahi apa”
“Saya puasa dulu sebelumnya”
“Ya.. itulah bonus buat kamu. Dapat haji dan dapat janda beranak tiga. Terima sajalah”
Akhirnya diapun menerima dengan ikhlas.
Ada yang mau mengamalkannya?
.
READ MORE » Banyak Jalan Menuju MAKKAH

Kasihanilah anak-anak Kita

Alkisah, pada jaman dahulu ada seorang pedagang kaya sedang melakukan perjalanan melewati padang dan hutan. Sambil menunggang kuda, dibawa juga sekantong uang dalam perjalanan itu. Cukup banyak uang yang dibawa, karena memang dia adalah seorang pedagang yang sukses.
Setelah lama melakukan perjalanan, dia mulai merasa letih. Dilihatnya di depan ada sebuah pohon besar yang cukup rindang dan sebuah kolam yang rasanya cukup nyaman untuk sekedar mandi dan membersihkan badan. Ditambatkanlah kudanya diantara akar pohon yang bergelantungan disana. Tidak lupa kantong yang dibawanya juga diselipkan diantara sela-sela akar yang ada.
Setelah berhenti sejenak, kemudian mandi di kolam yang ada di depannya. Tidak lupa kudanyapun juga dimandikan. Segar sekali. Baik penunggang maupun kudanya, sudah siap untuk melanjutkan perjalanan lagi.
Akhirnya merekapun melanjutkan perjalanan. Barangkali karena sudah merasa segar, dia lupa lupa mengambil kantong diletakkannya di bawah pohon.
Tidak berapa lama setelah penunggang kuda itu pergi, datang seorang penggembala dengan beberapa ekor kambingnya. Karena tempat itu cukup sejuk, maka diapun beristirahat di tempat itu, sambil membiarkan kambing-kampingnya minum dari kolam yang ada di sana.
Setelah dirasa cukup, diapun menggiring kembali kambing-kambingnya untuk segera pulang ke rumahnya. Tapi ada satu kambing yang masih tetap ‘ndeprok’ tidak beranjak dari tempatnya. Didatangilah kambing itu dan ditariknya supaya bisa berdiri.
Begitu kambingnya berdiri, dia melihat sebuah kantong di tempat ndeproknya kambing itu. Dia ambil. Ternyata isinya uang yang sangat banyak. Tanpa pikir panjang lagi dia bawa kantong itu pulang ke rumahnya. Ini rejeki, pikirnya. Karena memang tempat itu sangat sepi dan tidak ada siapa-siapa.
Setelah penggembala itu pulang dengan membawa kantong penuh dengan uang, datang juga ke tempat itu seorang bakul pasar dengan dagangannya. Dia juga beristirahat di bawah pohon yang memang cukup nyaman tersebut. Begitu nyamannya sampai dia tertidur beberapa saat.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara kuda yang mendekat. Dilihatnya seorang penunggangnya buru-buru menghampirinya.
“Mana uangku?” tanya penunggang kuda itu.
Karena bakul pasar itu gak paham dengan maksud orang itu, dia hanya diam saja.
“Tadi aku meninggalkan kantong uang di tempat dudukmu itu, sekarang mana?” tanya penunggang kuda itu lagi.
“Hei bung, aku tidak tahu apa-apa tentang kantongmu. Aku baru sampai disini lalu tidur dan kamu mengejutkanku dengan kudamu itu.”. Jawab bakul pasar.
Demikian selanjutnya dua orang itu bertengkar. Yang satu nuduh, yang lainnya lagi tidak mau dituduh karena memang tidak mengambil. Sampai akhirnya keduanya berkelahi, dan terbunuhlah si penunggang kuda itu.

Ada tiga tokoh dalam cerita ini. Penunggang kuda, penggembala kambing dan bakul pasar. Dari hasil penelusuran sejarah ketiganya, ternyata apa yang terjadi pada ketiga orang itu masih berhubungan dengan orang tua mereka masing-masing. Dan yang jadi peran antagonis adalah bapak dari si penunggang kuda yang terbunuh itu.
Dulu, bapak dari si penunggang kuda itu membunuh bapak dari si bakul pasar. Selain itu bapak si penunggang kuda itu juga punya hutang yang tidak dibayar kepada bapak si penggembala kambing.
Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah diatas? Suatu saat kita semua akan menjadi orang tua. Sudah selayaknya kita berhati-hati dalam bersikap dan bertindak supaya anak-anak kita tidak menanggung dosa dari kesalahan yang kita perbuat. Jika kita menanam kebaikan dimasa kini, anak-anak kita juga akan mendapatkan kebaikan dari orang lain. Tapi kalau yang kita tanam keburukan, anak-anak kita akan memanen hasil kejahatan kita. Kasihan…!!!?
.
READ MORE » Kasihanilah anak-anak Kita

Apa yang Kita Harapkan dari Obama?

Euforia kemenangan Obama menyelmuti seluruh dunia, tak terkecuali di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia. Masyarakat di negeri ini begitu suka cita menyambut kemenangan Obama sebagai orang nomor satu di Amerika, termasuk para santri di beberapa pesantren di Indonesia. Anak-anak, remaja dan orang tua mengelu-elukan Obama. Padahal mereka kenal pun tidak.
Entah apa yang membuat sebagian besar (?) masyarakat kita begitu bangga dengan terpilihnya Obama menjadi presiden AS. Barangkali karena adanya sedikit ikatan emosional, karena dia pernah tinggal di Menteng, sehingga banyak orang merasa bangga bahwa yang jadi presiden Amerika dulu tinggalnya di Indonesia. Mereka berharap agar Obama bisa merubah wajah dunia dan Amerika khususnya menjadi lebih santun, tidak arogan dan terutama bisa menjalin hubungan yang lebih baik dengan dunia Islam. Wabil khusus lagi bisa menghentikan arogansi Israel terhadap Palestina.
Kenyataannya? Ternyata Obama tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya. Dia tetap mendukung langkah Israel dan terkesan sangat melindungi. Lihat saja pidatonya yang antara lain menyatakan:
“komitmen Amerika adalah melindungi kedaulatan Israel”
“Kedaulatan Israel tidak dapat diganggu gugat”
dan juga pidotonya yang menyalahkan Hamas karena menembakkan roket ke Israel.
Entah apa alasan Obama tetap mendukung Israel alias si Yahudi itu. Tapi kabar yang beredar menyatakan bahwa dana kampanye Obama banyak berasal dari kalangan Yahudi, sehingga dia tidak berani macam-macam dengan Yahudi.
Jadi masihkah kita berharap Obama akan bisa mengubah nasib ummat Islam di Palestina?
Kalau menurut saya, sebaiknya kita tidak usah banyak berharap. Yang bisa membesarkan dan mengubah nasib ummat Islam, adalah ummat Islam sendiri. Jangan mengandalkan orang lain untuk merubah nasib kita. Ingat pesan Allah Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 51.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.”
Dan juga peringatan Allah akan begitu bencinya orang Yahudi kepada kita, juga dalam surat al-Maidah ayat 82.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

Tulisan ini tidak bermaksud untuk meminta orang membenci Obama ataupun kelompok etnis dan agama tertentu. Sebab Islam tidak menganjurkan demikian. Bahkan Rasulullah pun pernah meminta Sahabatnya Zaid, untuk belajar baca tulis kepada orang Yahudi. Tulisan ini lebih ditujukan pada ajakan bagi umat Islam dimanapun berada untuk lebih meningkatkan kemampuan dan kualitas hidup dalam segala bidang. Sehingga orang lain (baca: ummat agama lain) akan memperlakukan kita dengan lebih baik, lebih hormat dan tidak dipandang sebelah mata. Kita juga bisa berdiri dan berjalan kemanapun dengan kepala tegak.
.
READ MORE » Apa yang Kita Harapkan dari Obama?